Twitter
RSS

ISLAMI

0
Sebuah Renungan

Fras Styawan Al-Fikri




Zaman dahulu di negeri sakura, hidup seorang nenek dgn kuda putihnya
yang bagus. Sangking bagusnya, Kaisar sampai menawarkan 1/32 dari harta
kerajaanya untuk ditukar dengan kuda itu.

Suatu
hari kuda putih itu hilang. Tetangga sekitar semua menghujat nenek
tersebut, karena dianggap bodoh tidak mau menjualnya kepada Kaisar.
"Lihat kamu sekarang mendapat sial. Kuda hilang !!" kata penduduk.

Nenek: Kalian terlalu cepat berkesimpulan. Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya

Sebulan kemudian, kuda putihnya pulang dengan membawa ratusan ekor temennya.

Penduduk: Rupanya kuda kamu yg hilang membawa berkah (karena dia membawa temen2 nya ke rumah kamu, dan kamu bisa menjual mereka)

Nenek: Kalian terlalu cepat berkesimpulan. Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya

Suatu hari, anak nenek tersebut pata kakinya terjatuh dari kuda, sewaktu melatih mereka untuk kemudian dijual ke pasar

Kembali penduduk setempat menghujat nenek tersebut. Kata mereka: kalau dulu kuda putihnya dijual tidak akan terjadi musibah ini

Nenek: Jangan terlalu cepat berkesimpulan, Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya

Sebulan
kemudian datang utusan dari Kaisar, dgn membawa pesan "Negara dalam
keadaanperang, semua pemuda di desa ini harus ikut berperang, kecuali
orang tua, wanita, anak-anak, dan yang cacat.

Penduduk: Bener
kata kamu, kaki anakmu patah rupanya berkah, tidak usah ikut perang.
Sementara kami terpaksa berpisah dengan anak-anak kami

Nenek: Kalian ini entah kapan baru sadar. Jangan terlalu cepat berkesimpulan. Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya.

Yup..
bener. Seorang tokoh masyarakat dari negara Barat pernah berkata
"Seseorang baru bisa dinilai baik atau jahat sesudah orang tersebut
masuk peti mati"

sahabat...
janganlah kita mudah menyimpulkan
sesuatu itu baik atau buruk karena baik menurut kita bisa jadi buruk
bagi orang lain atau sebaliknya, janganlah suka menghakimi sesuatu yang
mungkin kita juga tidak tahu kebenarannya. .....

Hanya Allah SWT yang maha mengetahui segalanya... .

Rumus Fisika

0
Orang cerdas selalu menyiapkan bekal dalam melakukan perjalanan
Secara alur, hijrah dimulai dari adanya tekanan, kecepatan kaum muslimin dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah, usaha yang keras serta tentu saja energi yang tidak habis-habis untuk menegakkan agama Islam.
Dalam perspektif rumus fisika, ke empat proses tersebut bisa diwakili dengan 4 rumus, yaitu:
P = F / A à P = (m.a) / A
Tekanan berbanding lurus dengan massa dan percepatan, serta berbanding terbalik dengan luas penampang. Jika dikonversi dengan kehidupan, maka tekanan berbanding lurus dengan massa (bobot) masalah dan percepatan berbanding terbalik dengan luas penampangnya.
Jika dihubungkan dengan tekanan hidup yang dialami manusia, maka tekanan akan semakin besar ketika bobot masalahnya semakin berat, akan tetapi tekanan juga tergantung dengan keluasan (hati); semakin luas hati manusia, maka tekanan semakin kecil.
Bukankah banyak orang sukses muncul dari kemampuannya mengelola tekanan? Menjadikan tekanan sebagai landasan untuk melakukan lompatan, bahkan lejitan? Tekanan tidak lagi ditentukan oleh bobot masalah, akan tetapi bagaimana keluasan hati untuk mengelolanya.
Masalah ringan bisa menjadi tekanan yang sangat berat, jika hati manusia sempit. Masalah berat bisa menjadi tekanan yang ringan jika hati manusia luas. Keluasan manusia adalah hak prerogative Allah SWT.
V = s/t
Kecepatan berbanding lurus dengan jarak dan berbanding terbalik dengan waktu. Jika jarak diibaratkan sebagai seberapa jauh jarak tempuh untuk mencapai tujuan dan waktu adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam kehidupan, semakin jauh jarak yang harus kita tempuh, semakin kita harus meningkatkan kecepatan. Semakin sedikit waktu yang tersedia, maka kecepatan harus semakin tinggi.
Semakin hari, durasi hidup manusia semakin berkurang, makanya manusia harus lebih cepat mendekat kepada Allah. Mengenai jarak dalam kehidupan, jika diibaratkan sebagai garis lurus, maka kehidupan di dunia adalah satu titik di antara garis yang sangat panjang. Oleh karena itu, semakin jauh jarak yang akan kita tempuh, maka kecepatan pun harus semakin ditingkatkan.
W = F . s à W = (m.a) x s
Usaha berbanding lurus dengan gaya dan jarak. Gaya berbanding lurus dengan massa (bobot) dan percepatan. Usaha semakin keras dilakukan dengan cara peningkatan bobot (kualitas) diri, dan percepatan untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, karena jarak tempuh yang akan kita lalui cukup jauh.
Dalam kehidupan, usaha keras hanya mungkin dilakukan dari bobot kualitas diri yang terus membaik, percepatan yang terus meninggi dan pemahaman akan jarak yang akan ditempuh untuk mencapai sebuah tujuan.
e = mc2
Energi berbanding lurus dengan massa dan kuadrat kecepatan (cahaya). Energi manusia akan meningkat ketika kualitas diri dan kecepatannya ditingkatkan. Energi dibutuhkan agar manusia menjadi kuat dalam beraktivitas. Energi membuat seseorang tidak hanya sehat, tapi juga bugar.
Dalam kehidupan, hidup butuh energi, energy adalah penanda hidup. Tingkatkan kualitas diri dan juga kecepatannya.
Hijrah adalah tentang perpindahan dari satu kondisi ke kondisi lain yang lebih baik. Diawali dengan tekanan, maka perlu peningkatan kecepatan, usaha yang maksimal dan tetap memiliki energy karena perjalanan hidup di dunia adalah bekal di akherat—dalam kehidupan yang kekal abadi.
Wallahu’alam